My First Cerpen


 Lelaki Pilihan Tuhan


Aku hampir berusia 40 dan belum menikah. Seorang wanita di Indonesia berusia 40 dan belum menikah masih merupakan aib dan dianggap sebagai wanita tak laku. Dulu aku sering berkata pada diri sendiri aku tak akan menjadi seperti dia, dia adalah temanku yang berusia 40 dan belum menikah. Kenyataannya malah sekarang dia sudah menikah dan aku belum. Aku sangat ingin menikah tapi takdir belum berpihak kepadaku.

     Panggil aku Nawang, wanita sederhana yang mempunyai wajah lumayan, tinggi, langsing dan pintar. Aku juga berasal dari keluarga berkecukupan meski tidak mewah. Tidak ada keberatan yang berarti dari aku untuk mencari pasangan jika orang lain sering mempermasalahkan keluarga, masa lalu atau hal lainnya. Segala cara sudah aku lakukan untuk menjemput takdir. Bahkan aku merasa sudah melakukan apa yang diperintahkan Allah dan hampir semua tip-tip pencarian jodoh aku lakukan. Baik itu ta'aruf, pendekatan secara psikologi bahkan kejiwaan. Aku sering sedekah dengan diiringi doa agar cepat berjodoh, salat tahajud, tidak melakukan dosa-dosa besar bahkan ketika pasrah untuk dipilihkan lelaki oleh orang tuaku. Masih nihil.

    Menurut orang tua dan teman-temanku, aku ini wanita pemilih. Memilih lelaki dengan detail, dan sering enggak cocok hanya karena masalah sepele. Kurang tinggilah, kurang omong, enggak aktif , enggak pede, enggak bisa naik motor, umurnya kemudaan bahkan gara-gara dia pakai celana cingkrang, aku langsung mengundurkan diri. Ya Tuhan, ampuni hambamu yang ingin menikah tetapi selalu menolak pria-pria yang kau kirimkan untukku. Entah sudah puluhan pria yang aku tolak mulai lewat wa, lewat telpon, aku tolak langsung dan yang paling menyedihkan aku tolak didepan keluarganya. Sepertinya aku kualat dan aku harus menanggung akibatnya sekarang. Belum- belum laku…

    Dari sekian lelaki, ada tiga lelaki yang hampir menikah denganku dan semua gagal. Lelaki yang paling berkesan adalah lelaki maya yang menemukanku dalam situs pertemanan antar Asia. Namanya Mohammed Nayem ul Islam, lelaki Bangladesh yang sedang menempuh kuliah di Korea saat itu dan juga merupakan seorang pengusaha di negaranya. Dia langsung menelpon Bapakku dan mengatakan niatnya untuk menikahiku, meskipun masih kuliah dia berjanji sanggup membiayai hidupku. Hubunganku dengan dia berjalan hampir sepuluh tahun meskipun tidak pernah bertemu dan kandas di tahun ke sepuluh karena masalah birokrasi dan tidak ada restu dari ibunya belum lagi keluargaku yang mencurigai dia sebagai penipu, penjahat dunia maya dan sejenisnya. Bagaimana mungkin pria sebaik dia dan setampan dia menipuku, selama sepuluh tahun kita berhubungan dia tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh, dia juga tidak pernah meminta uang seperti kecurigaan teman-teman dan keluarga. Kita hanya berusaha untuk menikah, tapi Tuhan berkata tidak. Dia menikah dengan wanita pilihan ibunya, wanita Bangladesh dari keluarga baik-baik. Hal yang paling tidak bisa kulupakan saat perpisahan kami melalui chat dilengkapi webcam, dia mengatakan,

   " Nawang, u can mary with onother else, we try and try to marry for ten years but fail"

Aku melihat dia menangis di depan layar kamera, wajahnya yang tampan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Aku menangis tiga hari, mengurung diri dalam kamar dan mengutuk diriku sendiri, serasa Tuhan tidak adil, aku hanya meminta seorang lelaki diantara milyaran lelaki di dunia ini. Aku sudah menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya,tapi aku tidak mendapatkan apa yang ku mau. 

 

Berbulan-bulan setelah berhasil move on,aku berusaha membuka diri, 

    " Besok kita beli kebaya putih ya?"

katanya saat di mobil perjalanan pulang dari tempat adikku, aku diam.

   " Nanti, kalau kita menikah, kita ngontrak aja, kan nggak enak kalau jadi satu sama Bapakmu."

aku masih diam, tidak mengiyakan maupun menolak.

Ketika kita mampir di warung bakso,

  " Tolong dong, pinjam duitmu dulu buat bayar bakso, nanti kuganti." bisiknya ditelingaku

Aku berpikir dua kali untuk menerima lamarannya secara resmi setelah dia melamarku secara pribadi. Namanya Taufik, pria yang dicarikan Bapak di Biro Jodoh dan sudah menjalani komunikasi dengan bapakku selama sebulan, baru menemui aku setelah ada restu dari beliau tentunya. Duda cerai hidup yang belum mempunyai anak ini sebenarnya baik tapi aku berubah pikiran karena sikapnya selama perjalanan bolak-balik ke Wobosobo untuk aku kenalkan kepada adikku. Awalnya sih baik, dia mau membelikan aku ini dan itu, sopan, tapi lama kelamaan kelihatan enggak modalnya. Bayangkan dari berangkat sampai pulang dia tidak mengeluarkan uang sepersenpun padahal kata-katanya bombastis, dari dia yang sering bepergian ke Vietnam, punya usaha rental mobil dan masih banyak lagi. Nyatanya aku yang mengeluarkan uang dari bensin, parkir, uang toilet, jajan gorengan di pinggir jalan, mobil yang kita pakai sampai akhirnya bakso yang kita beli di warung, itupun dia yang mengajak mampir. Cukup sudah perjalanan sehari ini mengetahui perilakunya yang satu ini dan aku tidak mau berlanjut ke pernikahan. Untuk lelaki ini, aku tidak menangis.

    Suatu malam perasaanku gelisah, menemui seseorang yang telah dijanjikan oleh tetanggaku untuk dikenalkan kepadaku. Aku tidak tahu mengapa perasaan ini aneh padahal aku belum menemuinya. Hampir saja aku menabrak mobil asing yang diparkir dipinggir gang saat aku pulang ke rumah, lalu tertidur. Entah mengapa aku terbangun dan pergi ke toilet, seseorang memanggilku.

   " Nawang, lagi apa? Ayo ke rumah, seseorang menunggumu lo? " teriaknya di depan toilet

   " O ya bu,nanti aku ke sana"

Aku masuk ke rumah tatanggaku itu dan memberi salam pada beberapa lelaki yang duduk di karpet, seseorang mengajakku berbicara, hingga dia berkata, " Mbak, ini dia yang namanya Hasan."

" Oh.." jawabku gugup ketika mata kita berpapasan dan seolah dunia terhenti seketika. Lelaki tampan itu membiusku dalam tatapannya, aku menunduk.

Kami ngobrol hiingga tengah malam berlanjut dengan tukar-tukaran nomor HP

  Dia memiliki sekolah kapal pesiar yang ada di Temanggung dan sering ke Jogja untuk urusan pekerjaan yang sama. Kami sering kirim salam, kirim oleh-oleh dan dia kadang mampir ke rumah, tapi dia jarang WA maupun nelpon, hingga pandemi Corona memisahkan kita dan dia menghilang begitu saja, sedangkan tetanggaku sudah pindah kontrak dan tidak pernah berhubungan lagi dengan Hasan.

   Aku putus asa, sangat merindukannya, rinduku semakin menjadi ketika ibuku yang telah tiada datang dalam mimpi bersama Hasan, beberapa kali. Aku gelisah, aku mulai mencari-cari informasi tentang dia, bagaimana keluarganya? bagaimana adatnya hingga suatu saat aku tahu dia berasal dari Lamongan, dimana sebuah daerah di Jawa Timur yang masih mempunyai adat ' Lelaki dilamar duluan'.

Tidak semua memegang adat ini tapi masih ada yang melakukan terutama jika keduanya berasal dari Lamongan, 

'Oh,mungkinkah?Memintanya menikah denganku?' Aku semakin penasaran ditambah dengan mimpi ibuku berkali-kali. Seperti orang senewen aku stalking FB-nya dan menemukan seorang wanita yang tinggal di Australia, dimana dari percakapannya di FB, aku menduga mereka punya kedekatan.

   " Hai, Mbak Nila, namaku Nawang, senang berkenalan denganmu, maaf aku boleh nanya sesuatu tentang Hasan?"

   " Hai, Nawang, oke, gimana?"

   "Aku mau nanya gimana sih Hasan? Maksudku, duh gimana ya..aku Fans-nya, boleh…?"

  " Ok.." jawabnya di massenger, percakapan berlanjut,


Ternyata Nila sudah tidak berhubungan dengan Hasan selama dua tahun, dan dia adalah mantan pacarnya yang pertama. Hasan ditinggalkannya sejak mereka kuliah beda daerah, Nila di Jogja sedangkan Hasan di Bali. Kini Nila menikah dengan pria bule yang dikenalnya melalui sebuah situs perkenalan di jejaring sosial. Setelah informasi tentang keluarganya yang ada di Lamongan, semua foto keluarganya sudah aku dapatkan. Dia berasal dari keluarga sederhana. Tetapi malam itu yang membuatku shock adalah pengakuan Nila jika Hasan adalah lelaki nakal dengan ratusan pacar dan kehidupan bebasnya sejak dia kuliah hingga bekerja di kapal pesiar. Sepertinya Nila jujur, aku sudah tak sanggup meneruskan percakapanku dengan Nila, aku menangis sejadi-jadinya terdampar di kasur semalam dan berhari-hari nggak bisa tidur, mataku sembab.

   " Mengapa aku selalu kecewa, mengapa harus dia, yang seperti itu, sementara aku mati-matianmempertahankan kesucianku!" aku berteriak di dalam kamar, terisak tak berdaya, aku tidak menyangka dibalik seorang lelaki yang tampan dan santun teryata dia adalah lelaki kotor dan hina.

"Mengapa harus dia, Ibu? Tidak adakah yang lebih baik, mungkin saja dia kena AIDS, mungkin saja dia sudah punya anak, atau .." aku tidak bisa membayangkan hal yang lebih mengerikan lagi, aku semakin terisak.

  Hari demi hari kulalui seperti zombie, tapi jauh dilubuk hati ada rindu yang tak bertepi, rindu dalam debu, mungkinkah aku tersesat mencintai lelaki kotor seperti itu. Tuhan beri aku jawaban, tolong…aku lelah, lelah sekali...

  Kubersujud di hamparan sajadah, kutumpahkan semua sesak di dada, kupasrahkan diriku atas semua kekecewaan hidupku. Aku mungkin terlalu berharap pada manusia hingga lupa Engkaulah Pemberi Harapan yang sesungguhnya. Aku bersujud dan bersujud, ikhlas atas semua skenario hidupku, ikhlas atas semua yang akan Kau berikan kepadaku...aku hanyalah seorang hamba.

  Aku ikhlas seandainya aku harus mendapatkan lelaki sesuai pilihan-Mu, lelaki yang tidak sesuai impianku, aku tahu ada maksud dari semua Skenariomu, aku ikhlas dengan masa lalunya jika memang dia atau dengan lelaki lain selain dia.


  " Nawang, aku datang karena hatiku berkata aku harus datang, maaf tidak memberimu kabar sama sekali. Ibuku baru saja meninggal dan usahaku bangkrut, aku terlalu banyak dosa, aku hanyalah laki-laki kotor…" matanya menatapku seolah hampir menangis, terbata-bata dia melanjutkan kalimatnya.

  " Aku laki-laki kotor dan hina, yang ingin kembali ke jalan-Nya, aku...a..ku,tak pantas untuk mengatakan ini, tapi hatiku berkata aku harus mengatakannya padamu melalui mimpi-mimpiku…"bersimpuh dia di kakiku, terisak-isak sesenggukan.

  " Jadilah istriku sampai akhir hayatku…" 

Aku tahu rencana Tuhan lebih baik hingga dia datang tiba-tiba suatu hari dan bagai menjalankan sebuah misi dakwah dalam hidup, aku menerima dia menjadi Lelaki pilihan dari Tuhan.

Komentar

Postingan Populer