KEMATIAN Menyakitkan yang Pernah Dirasakan dan Disaksikan oleh My Kismet

Untuk dua orang tersayang, hanya doa, sedekah dan perbuatan baikku yang bisa aku persembahkan sekarang, semoga sampai kepada kalian, sungkem dari anakmu yang kurang berbakti ini...maafkan semua dosaku dan restui aku supaya menemukan seseorang itu....
Filosofi Kematian
 Kematian akan menjemputmu meski kamu sembunyi didalam benteng yang kokoh

Pasti dan enggak bisa ditawar! Hukumnya Absolut! Mutlak! Pake kurung doble..
Lalu apa bekal yang kamu bawa? Dosa-dosa itu? Dosa yang menggunung yang kamu pikir enggak bakal dibalas oleh Tuhan? Kamu salah, kamu lagi sedang dibiarkan berlumur dosa, jangan tunggu Tuhan menegur buat bertobat atau kamu dibiarkan sekalian sampai mati! Siksaan itu nyata dan mengerikan!

Hidup hanya mampir saja, silahkan mau mengartikan mampir untuk apa, bahkan waktu yang kita pakai didunia hanya sekejap dibanding milyaran waktu yang ada di akhirat, kesenangan ini sungguh Fana, tapi kamu tetap membiarkan dirimu berlumur dosa dalam ke Fanaan ini? Sampai kapan?

Jasadmu yang terbentuk dari saripati hina, lendhir bertemu lendhir dan terciptalah kamu dengan fitrahnya lalu kamu berbuat tindakan semena-mena di muka bumi seolah kamu manusia paling keren, padahal kamu hanya tercipta dari lendhir..
lalu kamu hidup dan bernafas, beruntung kamu diberi kesempurnaan oleh Tuhan, bahkan untuk bernafas pun yang harganya mahal kamu tidak akan pernah bisa membayar tiap detiknya. 
Masih saja kamu tidak menghargai semua itu dengan tingkah lakumu yang melebihi binatang, makanya azab Corona ini begitu dahsyat, dosa-dosa manusia sudah tidak dianggap dosa lagi, dosa itu sudah seperti Kebiasaan! OMG
Aku yang selalu berusaha baik masih takut jika dosa-dosaku ini akan membawa siksa selamanya di akhirat nanti. Tuhan Berkuasa Atas Segalanya!

Lalu kamu hidup dengan nafasmu, apa yang kamu lakukan? Tumbuh dan menua begitu saja?Berlumur dosa, bermain-main dengan lendhir dan hawa nafsumu itu. Kematian begitu dekat..sedekat air mata di pelupuk mata. Kematian adalah hidup awal dari akhirat dimana bekalmu didunia akan kamu bawa selamanya disana, Bekal Dosa atau Amal....hanya itu!
Lalu mengapa manusia masih bebal, bebal untuk bedosa, lagi dan lagi
Lambat atau cepat menusia yang terbuat dari lendhir akan mati, setampan ,secantik dan segagah apapun kamu didunia tidak bisa membeli kematian dari Yang Punya Hak Mematikan, kamu pasti Mati! dan tubuhmu membusuk dimakan belatung tinggallah tengkorak yang tak berharga!


Kematian itu menyakitkan dan mengerikan!
Aku melihat sendiri proses kematian orang-orang yang aku sayangi, mereka pergi satu persatu meninggalkan aku di dunia seorang diri.

Kematian itu nyata, ketika kematian mendekat semua tak ada harganya lagi, duniamu berada diantara dua dunia yaitu dunia fana dan dunia keabadian.
Halusinasi tingkat tinggi sebelum kematian itu datang, bahkan kamu sudah tidak mengenali siapa-siapa yang ada didekatmu, kamu hanya fokus menghadapi kematian.
Berbagai jalan menuju kematian , ada yang mendadak, ada yang sakit bertahun- tahun , ada yang mengenaskan tapi ada juga yang seperti orang tertidur. 

Kita tidak tahu jalan kematian mana yang kita tempuh, tetaplah menjadi baik agar kematianmu mudah.
.
Kematian Ibukku
Ibukku hanya sebentar saja di dunia ini, bahkan aku hampir lupa wajahnya....
Ibukku sakit hampir setahun sebelum kembali ke Penciptanya, sebelum meninggal ibu sering melamun, bahkan aku enggak pernah menanyaknnya, aku masih terlalu kecil dan polos.
Ibukku mulai tidak bisa jalan dengan satu kaki lalu berbulan- bulan tidak bisa jalan dan hanya tidur di kasur.Muntah-muntah hebat setiap hari dan badannya tinggal kulit pembungkus tulang, Nafasnya yang yang teratur diambil dari Tuhan diganti dengan nafas ngos-ngosan yang begitu berat...ibukku kesakitan. Perih...aku melihat nafas yang ngos-ngosan itu melalui kulit tipisnya diantara tulangnya yang menonjol.
Aku merasakan kesakitan itu dan ingin menggantinya, menggantinya dengan tubuhku, ibukku yang baik hati dan tidak pernah marah terbaring kaku ditempat tidur,menangis dan meratap, seolah sudah tidak ada di dunia ini, hampa...
Tatapan itu , tatapan yang masih kuingat menjelang ibukku pergi, matanya menatap kosong ke langit-langit saat kepalanya berada dipangkuanku...aku menatap langit- langit itu? Siapa yang ada disana, Ibuk....malaikatkah?
Sampai dirumah sakit, ditempat tidur yang masih jelas-jelas kuingat itu, ibukku berjuang dalam sakaratul mautnya. Tubuhnya berontak mungkin mengingat anak-anaknya yang masih kecil dan banyak. Pertarungan hebat dengan penyakitnya sekaligus berada di dua dunia antara Fana dan Kekal.

Diskusi dengan Malaikat Maut benar benar aku lihat saat itu, dengan tubuh gemetaran hebat ibukku menatap Malaikat Maut yang datang dhadapannya,matanya melotot seolah tak percaya maut menjemputnya saat itu.Aku, aku berusaha melihat malaikat itu tapi pandanganu terbatas. Ibukku masih tawar -menawar dengan Malaikat Pencabut Nyawa untuk mengambil Hak hidupnya dan dikembalikan kepada Yang Berkuasa...

Malaikat bersikeras bahwa ini perintah Tuhan untuk mengembalikan ibukku ke alam Kekal, ibukku masih menolak, menggelengkan kepala dengan hebat sambil berkata
' emoh, emoh, emoh....haus, haus mana minum?'
Tanganku gemetaran saat menyuapi ibukku sesendok air, mulut itu, mulut yang pernah melahirkan aku dengan taruhan nyawa, mangatup rapat tidak mau minum, Ya Tuhan, betapa perihnya sakaratul maut itu, lalu setelah ibukku mengangguk setuju....dengan anggukan berat
Malaikat mulai mengambil nyawa ibukku dari kaki, lalu perut dan nyawa itu....keluar dengan menyakitkan melalui mulut, ibukku menatap nyawa itu dengan mata lebar dan mulut menganga...perih dan sakit! Meski hanya melihatnya...aku bisa merasakannya...
Aku sakit dan perih melihat semuanya, duniaku hancur seketika, kesombonganku runtuh seketika, aku, aku enggak bisa berkata- kata bahkan tidak tahu saat itu jika ibuku sudah selesai menghadapi sakaratul maut. Perawat menutup mata dan mulutnya yang baru saja dilewati oleh nyawa itu, aku menangis, Bapak terduduk dan menangis, aku sudah enggak tahu lagi apakah aku masih hidup atau pingsan.....
Duniaku hancur, setidaknya butuh tiga tahun untuk menjadi waras dan menemukan diriku seperti dulu...
Tapi semua tak lagi sama,  aku memandang berbeda tentang Dunia ini....dunia yang Fana ini...

Kematian Bapakku..
Bapakku punya kebiasaan suka bersih-bersih dan memanjat sesuatu yang perlu dipanjat. Beliau sudah tiga kali jatuh dan retak, berjanji untuk tidak memanjat tapi tetap memanjat juga dan hari itu Beliau jatuh dari tangga setelah bersih -bersih, instuisiku mengatakan hidupnya tak lama lagi....

Nana, aku udah mau mati! teriaknya sesaat setelah jatuh, matanya menatap kosong..
Itu kata bapakku setelah terjatuh dari tangga setinggi satu meter dengan posisi miring dan kepala terbentur, tidak ada darah, aku bopong tubuhnya, ke kasur,tatapannya kosong, sekosong tatapan ibukku saat aku pangku dulu.Jantungku tak karuan, Bapakku masih tenang..

Bapak memintaku membawa ke rumah sakit, aku bopong beliau di kursi yang ada rodanya, aku panggil taksi dengan tergopoh-gopoh aku dorong beliau ke taksi dan menuju UGD, tatapannya masih kosong, antrian di UGD begitu banyak, aku dapat ruang tidur di lorong sebelum dapat pemeriksaan. Bapakku ditelantarkan dari pasien yang lebih serius., Aku menunggu seolah pengen mengamuk, kenapa Bapakku tidak diperiksa-periksa, bahkan Bapakku harus pipis di celana karena menunggu begitu lamanya..aku bingung, sebingung -bingungnya.
Setelah menunggu lama , bapakku akhirnya diperiksa oleh Residen, Residen sombong yang enggak ganteng itu memeriksa Bapakku dan memberi saran untuk membawanya ke radiologi untuk mengambil foto dilehernya. Bapakku patah leher, syarafnya terjepit dan harus segera dioperasi, dengan mengambil daging dari pahanya untuk ditempel ke leher yang terkena syaraf kejepit.
Aku lari kepojok ruangan menangis sejadi-jadinya, menelpon adik-adikku dan mengatakan bahwa Bapak sudah tidak akan tertolong lagi...
Aku berdiskusi dengan adikku apakah Bapak perlu dioperasi dengan kemungkinan 50 persen lumpuh.Kita menolak, membawa paksa pulang Bapak setelah melewati pemeriksaan yang menyakitkan, wajahnya melambangkan sekaratul maut berhari - hari, bicaranya meracau, tatapannya kosong, kadang bicara dan tatapannya normal....kadang....kadang dia masih seperti bapakku yang keras dan berwibawa, yang punya pendirian kuat, jujur dan disiplin bak militer.
Aku membawanya pulang merawatnya bersama, memandikan, membasuh luka dan membersihkan semuanya. Luka itu luka dipunggung karena kelamaan tidur aku ingin menggantikannya...
Bapakku yang menghidupiku dan menjadi ibu sekaligus ayah setelah kepergian ibu, yang telah mengorbankan kesenangan hidupnya untuk kesenangan anak-anaknya sedang menghadapi sekaratul maut...semalam sebelum beliau pergi beliau berjuang dengan nafas berat, aku tidur disampingnya dengan guncangan dan erangan nafas sakaratul maut itu , sehari sebelum dia pergi dia telah kehilangan fungsi organ kencingnya dan berteriak-teriak untuk ke UGD lalu di kateter, aku membawanya dengan rasa luka yang dalam melihat tubuhnya yang tinggal kulit dan tulang.Aku menyesal telah sering mengecewakannya, membantahnya...menganggap semua pengorbanan hidupnya akan bisa aku gantikan dengan uang suatu saat nanti.
Siang itu malaikat maut datang setelah aku mendengar bunyi gemerincing hiasan pengusir mimpiku, padahal tidak ada yang lewat di situ..Aku selesai meeting di sekolah siang itu tepat pukul setengah dua siang karena kulihat Bapak tertidur pulas jadi aku tinggal sejenak, aku pulang membawa bapakku ke kursi roda dan menghadap televisi, ini adalah posisi favoritnya seumur hidup, aku meraba tubuhnya yang begitu panas, peluh sebesar jagung memenuhi dahinya, aku mengusapnya, menciumnya dan bertanya

'Pak ke rumah sakit ya?'aku cemas dan bingung

Bapakku menggeleng, dia minum, makan pisang yang aku suapin...dan menatap ke depan tanpa diskusi dengan malaikat, aku tak tahu jika tatapannya itu adalah tatapan terakhir Beliau di dunia fana ini, menatap ke malaikat yang menjemputnya dengan kalem yang  mengendap-endap lalu perlahan hilang bersama malaikat itu. Aku menciumnya, memeluknya, merasa berdosa sekali...apa yang sudah aku berikan kepada bapakku sampai detik ini, setelah semua pengorbanan hidupnya untukku...? Satu orang kesayangan telah pergi lagi.aku hampa, total hampa,,, dan patah sayap..hingga bertahun-tahun rasa itu masih membekas...
Dunia tak lagi sama......

#jangan pernah main- main dengan dosa
#kematian itu nyata dan menyakitkan

Komentar

Postingan Populer