Malin Kundang dan Siti Nurbaya
Pantai Air Manis di kala senja dibalik bukit tempat Siti Nurbaya dimakamkan
My kismet suka sekali dengan cerita legenda yang ada di Indonesia, meski belum tentu kebenarannya, tetapi pesan moral yang disampaikan dalam legenda-legenda ini luar biasa bijaknya
Legenda yang paling populer di adalah Malin Kundang dan Siti Nurbaya, my kismet pernah berkunjung ke sana tahun akhir 2018-awal 2019, dimana terdapat Patung Malin Kundang yang dkutuk jadi batu, disebelah barat pantai ada perbukitan dimana Siti Nurbaya dimakamkan di sana...
MALIN KUNDANG
Once Upon a time, Di sebuah kampung Nelayan, Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat, hiduplah janda Mande Rubiyah bersama anak lelakinya Malin Kundang, mereka hidup miskin, ibunya berjualan kue untuk menghidupi mereka.
Suatu hari Malin Kundang sakit keras dan hampir kehilangan nyawanya dan berkat usaha ibunya dia sembuh.
Suatu hari ada kapal besar yang merapat di Pantai Air Manis, Malin Kundang yang telah beranjak dewasa ingin merantau untuk merubah nasib, meski ibunya keberatan, akhirnya ibunya melepaskan Malin Kundang dengan memberinya bekal nasi yang terbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus.
Ibunya menunggu selama bertahun-tahun tetapi Malin Kundang tidak kunjung pulang, hingga ibu Malin Kundang tua dan renta serta sakit-sakitan. Dia menunggu hingga suatu hari penduduk Kampung Nelayan heboh dengan kedatangan Kapal Besar yang berisi Malin Kundang dengan istrinya yang cantik putri dari bangsawan yang kaya raya. Malin Kundang turun dari kapal dan ketemu dengan ibunya yang tua renta dengan pakaian compang camping berhambur memeluk Malin Kundang. Malin Kundang merasa malu terhadap istrinya, dia tidak mengakui ibunya dan bersikap kasar terhadap ibunya. Dia menendang ibunya yang berusaha menahan kakinya Malin Kundang saat akan pergi...ibunya tersuruk, jatuh ke tanah, sakit hati dan menangis.
Keesokan paginya kapal Malin Kundang di terpa badai besar dan Malin Kundang terdampar di Pinggir Pantai Air Manis menjadi batu setelah dikutuk oleh ibunya. Begitu juga dengan kapal dan istrinya menjadi ikan-ikan kecil di sekitar Batu kutukan itu....
Patung itu benar-benar ada dengan serpihan kapal dan tali untuk menambatkan kapal,😊😊tetapi untuk kebenaran legenda ini, my kismet tidak bisa menyatakan apakah benar atau hanya cerita saja.
Pesan moral, janganlah durhaka sama orang tua terutama ibu, karena seberapa banyak perbuatan baik kita kepada ibu belum tentu bisa menggantikan pengorbanannya berupa setetes air susunya pun...
Kisah pengorbanan, ketulusan dan pengkhianatan seorang anak terhadap ibunya sendiri
jembatan Siti Nurbaya menghubungkan kota Tua dan Gunung Padang dimana merupakan tepian bukit Siti Nurbaya pertama kali bertemu dengan Samsul Bahri dibangun tahun 2002 sepanjang 60 meter untuk menghormati Marah Rusli sebagai penulis cerita ini...foto jembatan menyusul ya☺️
SITI NURBAYA
Sebuah karya yang diambil dari novel karya Marah Rusli
Awal abad 20, Samsulbahri dan Siti Nurbaya, masing-masing anak dari bangsawan Sutan Mahmud Syah dan Baginda Sulaiman merupakan tetangga dan teman kelas yang sudah jatuh cinya sejak remaja, namun Samsu baru mengakui jatuh cinta kepada Siti sebelum berangkat ke Batavia atau Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya.
Datuk Maringgih tidak menyukai bisnis yang dikelola Sulaiman makin berkembang, Datuk Maringgih menjatuhkan bisnis Sualaiman dengan cara cara licik, akhirnya Sulaiman jatuh bangkrut dan terpaksa meminjam uang kepada Datuk Maringgih dalam jumlah banyak dan tidak dapat melunasinya. Siti Nurbaya sebagai anak yang hanya mempunyai orang tua tunggal semenjak ditinggal meninggal oleh Ibunya, merelakan dirinya sebagai ganti hutang-hutang
dari Ayahnya
Tidak tahan dengan perlakuan kasar Datuk Maringgih, Siti Nurbaya berusaha kabur ke Batavia untuk menyusul dan bertemu Samsul. Usaha Siti diketahui oleh Datuk serta gagal dan malah dituduh balik mau melarikan harta Datuk ke Batavia, akhirnya Datuk meracuni Siti hingga Siti tewas keracunan.
Samsul mendengar berita ini dan patah hati, dia berusaha bunuh diri dengan menembakkan pistolnya ke kepala dan gagal.
Untuk mencapai kematian Samsul bergabung menjadi prajurit kolonial untuk menjemput kematian.
Suatu hari setelah 10 tahun semenjak Siti tewas dan Samsul berusaha bunuh diri, Datuk Maringgih memimpin revolusi Hindia Belanda untuk memprotes kenaikan pajak. Samsul sebagai prajurit dikirim untuk menumpasan Datuk Maringgih. Datuk Maringgih akhirnya tewas di tangan Samsul, sedangkan Samsul sendiri terluka berat karena pertempuran dan menemui kematiaannya seperti yang diinginkan.
Pesan moral , Cinta sejati selalu setia kepada janji seberat apapun ujian hidup yang dialami, pengorbanan seorang anak kepada orang tuanya merupakan bentuk tanda bakti kepada orang tua yang telah membesarkannya meskipun kita tidak menyukai keadaan itu...
Kisah kasih tak sampai, pengorbanan, penjajahan, kolonialisme, imperialisme serta kesetiaan kekasih yang tak lekang oleh waktu maupun ujian hidup
Nb .makam Siti Nurbaya benar-benar ada







Komentar
Posting Komentar